Berbagi Peran


topegnkayu Bila anda percaya bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, maka dunia adalah pentas teater yang partisipatif. Sang Sutradara menyediakan panggung lengkap dengan propertinya, silahkan sang pelakon memilih peran dan memainkan perannya sebaik-baiknya. Di situlah makna amal perbuatan yang kemudian akan dinilai.

Pada budaya Cina lama, yang dipengaruhi kuat filsafat Tao, kecenderungan orang memilih peran didasarkan kedekatannya dengan harmoni alam. Petani tentu saja dinilai sangat mulia, karena dia sangat dekat dengan harmoni alam. Para prajurit yang ‘terpaksa harus melawan’ harmoni alam tentu saja tidak semulia sastrawan yang karya-karyanya diinspirasikan keindahan alam. Lalu bagaimana dengan pedagang? Konon karena hobinya ‘menjual alam’ dan semata-mata mengambil keuntungan dari alam, pedagang bukan pilihan profesi yang mulia. Syahdan, menurut spekulasi analis budaya amatiran, itulah sebabnya orang-orang Cina yang punya kecenderungan berniaga akan memilih keluar, untuk mencari kemuliaan di negeri orang

Di jaman sekarang ini, ketika ‘kemuliaan’ orang diukur dengan ketebalan dompetnya, orang sebenarnya tidak lagi memperdulikan peran. Just duit! Orang akan memilih peran apa saja bahkan beberapa peran sekaligus untuk menjamin kesejahteraan hidupnya. Itulah yang dinamakan monopoli.

Pada rezim orde baru, monopoli seratus persen halal. Itu pula yang terjadi pada pengadaan gandum yang dimonopoli sekaligus disubsidi. Pihak yang memperoleh fasilitas super istimewa ini, merasa sah-sah saja ketika kemudian melakukan diversifikasi vertikal dari hulu ke hilir. Aku punya gandum, mengapa tidak aku buat berbagai produk berbahan baku gandum. Aku buat mie instant dalam berbagai rasa bahkan dalam berbagai merk yang berbeda. Maka jadilah monopoli ke segala arah, baik vertikal maupun horisontal.

Sekarang ini, pada sub sektor industri furnitur, yang terjadi adalah monopoli dari hilir ke hulu. Para broker atau cargo dan forwarder yang bermain di hilir, kemudian akan melirik ke arah hulu ketika peluang pasar sudah dia kuasai sepenuhnya. Jadilah pengusaha jasa kargo, forwarding sekaligus produsen furnitur. Kalau perlu, bahkan bisa bermain kayu. Maksud saya, bermain juga pada usaha pengadaan bahan baku kayu yang memang membutuhkan modal relatif besar.

Ketika Microsoft membendel software internet browsernya dengan operating system Windows (yang notabene telah menjadi standar software OS), dan menjualnya dengan murah, para pembuat software khusus internet browser seperti Netscave jelas kebakaran jenggot. Ketika Microsoft digugat dengan dasar undang-undang anti monopoli, Bill Gates berkilah. Bagi dia sah saja internet browser diintegrasikan kepada operating system. Internet browser, baginya, hanyalah perluasan fungsi file manager yang sudah imanen dalam operating system. Bila operating system bisa melakukan browsing secara lokal, lalu pada intranet, mengapa tidak dengan internet?

Tapi bagi pengadilan, inti dari monopoli adalah mematikan peran orang lain, persetan dengan kilah logika programing. Makanya Microsoft divonis kalah. Saya yakin, di tingkat bandingpun Microsoft bakal kalah.

Yang menjda pertanyaan, bisakah para pengusaha Indonesia mengandalkan undang-undang anti monopoli?

11 Juni 2001 6:32:00
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: