Benang Kusut


Bahwa reformasi adalah niscaya, bukan lagi merupakan topik perdebatan. Bahkan substansi reformasinya pun, sudah secara luas disepakati. Yang sekarang menjadi persoalan adalah, dari mana itu semua dimulai? Lalu, siapa yang paling berkepentingan untuk secara bertanggung jawab mengambil inisiatif.

Kondisi yang kita hadapi sekarang adalah benar-benar merupakan belantara benang kusut yang sudah sedemikian dalam mengakar, dan sedemikian luas menyebar. Kita mungkin merasa tahu mana pangkal dan mana ujungnya. Tetapi bagaimana kita mengusutnya supaya bisa menjadi sebuah solvable problem, dan pada gilirannya menjadi pangkal tolak upaya reformasi yang bertahap, menyeluruh dan berkelanjutan?

Sialnya saya hanya sebentuk manusia bodoh, tidak capable dan bingung, yang terpaksa beronani dengan berbagi pemikiran yang berkecamuk di kepala.

Kadang-kadang saya ingin tak ambil pusing. Prek! Mengapa harus buang-buang waktu. Di jaman seperti ini, dua puluh empat jam per hari, waktu yang terlalu singkat untuk membuat anak istri tidak kelaparan. Toh saya bukan cerdik cendikia yang kapasitas kepakarannya akan ditakar semua orang. Toh saya bukan dari jenis pemimpin tempat orang-orang menitipkan amanat mereka.

Tapi, tidak! Kasihanilah nurani kita yang selama ini terjajah. Kecuekan kita, ketidakpedulian kita selama ini, telah terbukti menjadi iklim kondusif bagi kesemena-menaan mereka yang saling berebut kepentingan. Look what they have be done. Kita telah menuai kesengsaraan dari benih-benih keserakahan yang mereka taburkan. Dengan segala kepedihan kita harus memulai lagi dengan mengais-ngais di antara puing-puing reruntuhan yang disebabkan kita baru berani membebaskan diri dari kebisuan ketika para penguasa telah menjadi sedemikan tulinya.

Mari kita inventarisir, apa lagi yang sekarang masih tersisa.

Suksesi yang kita nanti-nanti sampai frustasi, akhirnya bergulir begitu saja dengan segudang pertanyaan.

Nihil. Tidak ada lagi yang tersisa selain optimisme. Hanya optimisme yang bisa kita bangun tanpa harus menguras devisa. Hanya optimisme yang bisa mencairkan kebekuan LC. Hanya optimisme yang bisa membuat kelaparan menjadi harapan. Tapi bila optimisme hanyalah optimisme, siap-siaplah untuk mulai menggantang angan-angan. Karena dalam optimisme yang saya maksudkan esensinya adalah sebuah kata kerja.

25 Mei 1998 8:17:00
  1. Desember 27, 2013 pukul 7:43 pm

    ch_vertical=”premium”;. World Kempo Association is at
    the present promoting the principles of this new style worldwide.
    I’ve witnessed what this does for older kids who’ve been training for several years.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: