Beranda > Catatan > 101 Alasan, Mengapa aku Benci Seragam Sekolah III

101 Alasan, Mengapa aku Benci Seragam Sekolah III


Alasan ketiga: “Alam meragamkan, manusia menyeragamkan”

 

butet-manurung

Keragaman adalah kodrat alam. Itulah sebabnya di antara kita berbeda rupa. Padahal katanya kita berasal dari keturunan yang sama: Adam dan Hawa.

Emang enak sih bila misalnya, seluruh manusia memiliki golongan darah yang sama. Gak repot nyari donor darah. Tapi tidak seperti itu kehendakNya.

Syahdan menurut cerita kang Peter JD’Adamo, pada mulanya manusia memiliki golongan darah yang sama. Seiring dengan pola perubahan perilaku kolektif, bermunculan lah varian golongan darah baru. Gen golda O paling kuno, muncul di jaman peralihan peradaban manusia dari berburu dan meramu ke peradaban agraris. Golda A muncul ketika manusia sudah settle pada peradaban agrarisnya. Kemudian muncul gen golda B, dan akhirnya AB.

Sumpah saya, tidak bermaksud untuk mengajak anda mempraktekkan gaya diet golongan darah. Saya hanya mencoba menegaskan bahwa pada dasarnya manusia tunduk pada hukum alam yang cenderung meragamkan.

Yang tidak jelas dasarnya, adalah kecenderungan ego manusia untuk sok menyeragamkan. Asal-usul tradisi seragam pada peradaban manusia, juga tidak jelas. Mungkin pada awalnya seragam hanya dikenal di kalangan militer. Ini wajar, mengingat pada situasi perperangan memang harus jelas tegas mana kawan mana lawan. Pada perkembangannya kemudian, seragam juga digunakan oleh berbagai kelompok yang merasa perlu menegaskan bahwa ini adalah kami bukan kalian.

Dewasa ini kehebohan manusia Indonesia untuk berseragam ini berseragam itu sudah sampai pada titik yang memuakan. Mengada-ada dan lebai. Baca aja kutipan berita tentang seragam DPRD Jatim:

Seratus anggota Dewan ini mendapat kain woll Italia 100 persen dengan nilai pagu Rp 990 Juta. Setiap anggota dewan juga memperoleh ongkos jahit sebesar Rp 2,85 juta. Artinya, sebelum menjalankan tugas, fasilitas seragam dan ongkos jahit saja, seratus anggota dewan mendapat Rp 1,275 miliar.

(Jakartapress.com; 11/08/2009)

Lebai kan?

Di rumah, istri saya punya puluhan seragam. Dari seragam PKK, arisan, pengajian, sampai seragam senam. Padahal senamnya aja macem-macem. Dari senam Poco-poco, High Impact, sampai senam Lansia. Untungnya saya hanya punya satu seragam saja: seragam kelompok ronda. Jaket seragam, dengan bordir tulisan: “Saturday Night Neighborhood Security System Group”. Jelas saya tidak pernah mau pake seragam itu. Selain malu dengan tulisannya, lebih enakan ronda sambil berselendang sarung. Gimana coba, caranya nyembunyiin rambutan colongan, kalau rondanya pake jaket?

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: