Beranda > Catatan > 101 Alasan, Mengapa aku Benci Seragam Sekolah II

101 Alasan, Mengapa aku Benci Seragam Sekolah II


Alasan kedua: “Apa Hubungannya Pendidikan dengan Seragam Sekolah?”

disiplin sekolah Sejujurnya, aku benci Konvensi Hak Asasi Anak, yang telah menyederhanakan pemaknaan hak pendidikan anak menjadi wajib belajar 9 tahun; yang membiarkan pemaknaan wajib belajar menjadi hak eksklusif negara untuk menggiring anak-anak ke institusi pengekangan yang disebut sekolah.

BTW, dari mana ya jedul-nya tradisi sekolah? Jelas bukan dari Cokrobedog, tapi dari mana ya? Orang Sunda menyebutnya: sakola; Bu Mus, Laskar Pelangi: sokolah; Porto: escola; Spanyol: escuela; Prancis: école; Itali: scuola; Inggris, Belanda: school. Arab: madrassa. Berarti jelas bukan dari Arab juga.

Cari yang tuaan dikit ah! Bahasa Inggris kuno: scōl, dari bahasa Latin: schola, dari bahasa Yunani kuno: scholeion, berasal dari kata schole yang artinya: “waktu senggang, bersenang-senang”, yang di kemudian hari bermakna: “percakapan atau pengetahuan yang diperoleh dari percakapan di waktu senggang”. Nah lu! Mengapa pula sekolah harus pake seragam? Gak lucu kan, kalo Socrates berjalan-jalan di pasar Athena diiringi murid-muridnya yang berseragam.

Pernah Lik Mantri Dibyo –yang sekarang udah gak kepake lagi itu– mewacanakan penghapusan seragam sekolah. Di antara banyak orang yang protes, aku diem aja. Orang bilang, seragam penting untuk mendisiplinkan anak. Aku bilang, oke-oke aja tuh tawuran pake seragam. Lagian, apa pula hubungannya perilaku dengan baju? Mengapa pula sekolah harus disiplin? Bila disiplinnya ala militer. Hormat grak! Maju jalan! Teembak di tempaaat, grak!!!

Orang bilang, seragam perlu untuk menghapuskan kesenjangan sosial diantara anak-anak. Aku bilang, kesenjangan sosial kok dihapus pake seragam? Homo simbolicum banget sih! Cara anak memamerkan kekayaan orang tuanya jauh lebih cerdas, nek! Keren-keranan BB, NB atau status FB, jauh lebih efektif.

Bila memang benar, tujuan pendidikan nasional itu untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa…” dst, dst. Kira-kira, apa ya kontribusi seragam terhadap kecerdasan anak? Bagiku, yang jelas kelihatan adalah kontribusi negatif seragam terhadap kebebasan anak untuk mengekspresikan dirinya seperti yang dimandatkan KHA. Dari mana munculnya kecerdasan, bila kita dihadapkan dengan potret anak-anak yang duduk berderet rapi. Dengan baju yang sama, dengan cara duduk bersidekap yang sama, dengan cara berekspresi yang sama. Kok kayak toys factory?

Kata orang, kecerdasan anak tumbuh berbanding lurus dengan kekayaan stimulus yang diterima dari suasana lingkungan belajarnya. Nah, kalau yang ini aku setuju. Kemudian muncul serangkaian gambar (dengan kecepatan 24 frame/detik) di kepalaku:

(Seorang anak yang belepotan lumpur bertanya sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi, setelah sebelumnya dengan lengan bajunya menghapus ingus di hidung)

“Bu Guru, mengapa ya mamahku melarang hujan-hujanan? Padahal mamahnya kodok mengajak anaknya bernyanyi kalau hujan.”

(Kemudian melempar seekor kodok yang dirogoh dari saku bajunya ke hadapan Bu Guru).

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: