Beranda > Catatan > Sekolah Memang Mahal dan Tidak Perlu

Sekolah Memang Mahal dan Tidak Perlu


bengkel spedaPas di seberang SLB, jalan Wates, saya punya langganan bengkel speda. Saya biasa menjulukinya koh Bengkel, karena beliau seorang keturunan Tionghoa. Setengah baya, cerdas, dan selalu tampil perlente. Bersepatu, berkacamata, berkemeja putih tangan panjang. Jelas profil semacam ini terlalu berlebihan untuk seorang montir speda yang ongkos servisnya tidak pernah melebihi angka 10 ribu.

Jangan pernah membayangkan ruang bengkel yang gelap, kumuh, dengan lantai tanah beraroma oli. Yang ini beda banget. Ruangan berlantai keramik yang tidak terlalu besar, didominasi etalase kaca dan rak pajang onderdil, serta sederetan speda butut.

Bila saya datang ke bengkelnya, koh Bengkel akan menyambut dengan sapaan ‘halo bos’-nya yang akrab. Setelah mengambil alih speda disertai sekilas pertanyaan tentang jenis kerusakan yang perlu ditanganinya, dia akan mempersilahkanku untuk duduk di sebuah kursi plastik, sambil menyodorkan koran hari ini, yang biasanya tidak sempat kubaca.

Gimana mau sempat baca? Sambil tetap sibuk mengotak-atik speda, koh Bengkel akan nyerocos memancing diskusi dalam berbagai tema kontemporer. Dari masalah sosial, politik, ekonomi sampai ke masalah agama. Kadang-kadang saya menimpali omongannya, kadang-kadang saya cukup ber-’oya, oya’ atau ber-‘o gitu toh?’ Tapi dia tidak pernah kehabisan bahan cerita. Gak ada matinya.

Nah, suatu waktu, entah dari mana asal muasalnya tiba-tiba diskusi bermuara ke arah pendidikan. Setengah curhat, koh Bengkel mengeluhkan tingginya biaya pendidikan. Dan menurut dia, ongkos pendidikan sama sekali tidak rasional dibanding dengan manfaat yang bakal diterima anak didik.

Anaknya yang ragil masih di SMA. Dia telah memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan anaknya ke bangku kuliah seperti kakak-kakaknya. Si Ragil akan dimentornya sendiri untuk menjadi penerus kerajaan bisnis bengkel spedanya.

Tanpa diminta, kemudian koh Bengkel membeberkan hasil cost and benefit analisys yang telah dilakukannya. Dengan rinci, dia uraikan skenario cost yang bakal dipikulnya bila si Ragil kuliah. Jumlah-jamleh, totalan tanpa perlu pake fungsi @sum-nya exel, munculah angka di atas seratus juta.

Lalu, bagaimana dengan benefitnya? Menurut dia, gak ada, nihil, nol putung. Buktinya, setelah lulus kuliah, kakak-kakaknya masih harus dicarikan pinjaman untuk buka usaha sendiri. Sampai sekarang gak maju-maju. Mau diajarin gak mau, wong merasa lebih pintar.

Sebagai seorang yang pernah bertahun-tahun duduk di bangku kuliah, terus terang intelektualitas saya agak terusik dengan cara berfikir yang simplisitis semacam itu. Saya pun berusaha membantahnya. Di kampus banyak manfaat yang bisa diperoleh. Ada ini, ada itu, bisa ini, bisa itu. Sampai berbuih saya menguraikannya. Dan dia menjawabnya dengan pendek: ‘Ada toh kampus seperti itu? Setahu saya cuma ajang tawuran.’ Dan saya pun terdiam.

Setelah jeda agak lama, dia pun mulai angkat bicara lagi. Menurutnya dalam dunia nyata, yang perlu kita kuasai tidak seheboh seperti yang diajarkan di bangku sekolah. Untuk membekali si Ragil, dia telah memiliki cukup ilmu manajemen praktis. Kalau masih kurang juga, si Ragil bisa mengasah kemampuan manajerialnya sambil praktek. Kalau sekedar konsep gak perlu repot-repot, kan ada ‘Koh Gugel’.

Pembicaraan pun terputus, ketika ada bapak-bapak tua masuk –kelihatannya model pensiunan. Koh Bengkel pamit untuk melayani dulu tamunya. Dua orang itu pun mojok di depan counter. Setelah ngobrol sejenak, pak Tua menyerahkan sejemput uang sepuluh ribuan. Koh Bengkel menghitungnya dengan cepat, lalu mengacungkan jempol. Pak Tua pun pamit, pergi sambil menuntun sebuah sepeda dari deretan sepeda butut di ruang depan bengkel.

Oalah, ini toh ‘dunia nyata’ koh Bengkel!? Pantesan bengkel sepedanya keren. Saya harus segera mengganti namanya menjadi koh Gadai: ‘Memecahkan masalah tanpa masalah’.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: