Beranda > Catatan > 101 Alasan, Mengapa aku Benci Seragam Sekolah I

101 Alasan, Mengapa aku Benci Seragam Sekolah I


SpatuHitamAlasan pertama: ‘Sepatu Hitam Bertali’

Lima tahun yang lalu. Hari pertama anak ku yang paling besar masuk SMP. Terpancar kebanggaan dari raut mukanya, ketika berjalan hilir mudik menunggu saatnya berangkat.
Sekolah baru, seragam baru, dan sepatu baru. Sepatu casual hitam dengan sedikit sentuhan strip abu-abu. Keren banget. Mamahnya bilang, sedikit mahal gak apa-apa, yang penting anak senang. Sambil tetap tersenyum, batinku berkata lain. Emh, dana asuransi pendidikan ternyata hanya cukup untuk menutup biaya seragam. Untuk iuran pembangunan sekolah masih harus pusing cari utangan.
Sorenya, sepulang dari kantor, kulihat suasana yang sama sekali berbeda. Suasana berkabung. Anakku duduk tercenung, sambil berpeluk lutut. Mamahnya bermuram durja.
Setelah kupancing-pancing, akhirnya keluar juga sebuah pengakuan. Dengan terbata-bata anakku mengadu. Pak X (entah guru apa), sewaktu apel bendera, mengancam akan mengumpulkan dan membakar sepatu anak-anak yang tidak sesuasi aturan seragam sekolah. Ternyata sepatu seragam sekolahnya, harus benar-benar hitam, dan bertali.
Mendengar itu, kontan telingaku berdenging. Omong kosong apa lagi ini? Jantungku berdegup keras, lutut dan tanganku bergetar, tengkuk mengencang. Ini dia warisan ibuku: hiper tensi. Tanpa melepas tas kerja, terhuyung-huyung aku berjalan ke belakang rumah.
Menghempaskan pantat di pinggir kolam, lalu menyulut sebatang rokok. Dari balik tabir asap rokok, kulihat ikan beraneka warna berenang kian kemari. Pelan tapi pasti, degup jantungku mereda. Thanks God, telah Kau ciptakan ikan beragam warna. Apa lucunya bila semua ikan sama warnanya.
Tak lama kemudian, istriku datang dengan secangkir kopi plus beberapa kerat singkong goreng. Hidangan pavorit, yang kali ini sama sekali tidak menarik minat. Sambil tetap tercenung, aku mencuil-cuil ketela goreng dan melemparnya ke kolam. Ikan-ikan itu kontan berkecipuk, berebut, berkejar-kejaran. Pikiranku mengembara kemana-mana.
Mengapa ya, dalam bahasa Inggris gerombolan ikan juga disebut ‘school’? Kalau ikan-ikan itu disekolahkan, apa akan diseragamkan juga, ya? Mengapa ya, ada guru setolol itu? Apa jadinya dunia, kalau anak-anak dididik di bawah ancaman, diteror dengan mangatasnamakan disiplin? Mengapa ya, tidak dibiarkan saja anak-anak leluasa mengekspresikan dirinya melalui baju yang dikenakannya? Balik lagi, mengapa ya ada guru sebodoh itu?
Mungkin ini jawaban dari semua pertanyaan itu: "Di dunia yang bodoh, hanya orang paling bodoh yang punya kuasa membodohi orang-orang bodoh."

Kategori:Catatan Tag:, ,
  1. Anonim
    Desember 27, 2011 pukul 3:18 am

    Numpamg tanya… Gambar sepatu yang ada di blog ini, merk apa ya ? Harganya berapa ? Belinya dimana ? Dimohon pertolonganya…. Thanks…

  2. Juli 30, 2013 pukul 1:57 am

    Snack sandwich: black bread with salad and pieces of
    avocado, orange juice (1 glass). Thus, the ectomorph will be pushed to the required calorie zone.

    While in ketosis, your body will burn fat as fuel.

  3. September 18, 2013 pukul 9:00 am

    Thanks for sharing such a fastidious idea, article is good, thats why i
    have read it completely

  4. September 23, 2014 pukul 6:00 pm

    After I initially commented I seem to have clicked the -Notify me
    when new comments are added- checkbox and from now on every time a comment is added I receive four emails with the exact same comment.
    Perhaps there is a means you are able to remove me from that
    service? Cheers!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: