Beranda > Catatan > Reward and Funishment

Reward and Funishment


M. Tata Taufik

 

carrot3Selalu, yang ada di benak saya bila memikirkan istilah ini adalah gambar kereta kuda. Si Sais memegang dua tongkat. Di tangan kiri tongkat dengan wortel tergantung diujungnya, di tangan kanan tongkat cambuk. Rod or carrot. Makanya saya tidak pernah punya keinginan menerapkan konsep ini dalam manajemen organisasi saya. Rasanya seperti memperlakukan orang sebagai kuda beban.

Dalam manajemen produksi jaman perbudakan, jelas yang berlaku adalah konsep push and funish. Cambuk digunakan untuk memacu pekerja. Bila ada kesalahan cambuk digunakan lebih keras lagi. Tidak ada mendingnya, tapi namanya juga perbudakan. Pada awal jaman industrialisasi, ketika para budak kemudian dinamai buruh, konsep funishment diberlakukan tanpa diimbangi dengan adanya reward. Karena upah telah dengan sendirinya dianggap sebagai reward, pihak manajemen tinggal memikirkan funishment doang.

carrot1

Manajemen modern, maunya menerapkan konsep reward or punishment secara proporsional dan berimbang. Orientasinya jelas, peningkatan kinerja organisasi. Bila perilaku karyawan berkontribusi positif terhadap kinerja organisasi, dapat penghargaan. Sebaliknya, bila negatif ya diberi sanksi.

Dalam prakteknya, sering terjadi kegamangan dalam penerapan konsep ini. Pertama, dalam memberi reward orang cenderung merasa tidak perlu terlalu hati-hati. Tetapi, ketika akan memberikan funishment, orang cenderug berpikir dua kali. Bahkan berkali-kali, sampai akhirnya tidak jadi memberikan sanksi.

Kedua, masih ada kesimpangsiuran dalam memaknai kinerja. Dalam birokrasi pemerintahan, misalnya, konsep kinerja dipandang tidak perlu lagi repot-repot dideskripsikan. Ketika berkesempatan memfasilitasi Lokakarya Implementasi Digital Government Services pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-DIY (kapan, ya? Lupa aku), saya menangkap kesan itu.

Pada waktu saya mengajak peserta untuk melakukan eksplorasi pemaknaan kinerja, sama sekali tidak terjadi pengerucutan diskursus. Hanya satu yang disepakati dengan bulat, bahwa istilah kinerja identik dengan istilah performance. Diskusi malah kemudian bergeser pada pemahaman disiplin kerja, karena disiplin kerja dipandang sebagai kriteria penting kinerja birokrasi.

Lalu, apa saja indikator disiplin kerja? Banyak. Ada yang abstrak ada yang relatif terukur. Mulai dari loyalitas pada negara dan Pancasila sampai ke masalah jam kerja. Nah, lu! Bagaimana pula cara mengukur loyalitas pada negara dan Pancasila? Jawaban peserta: ‘Oh, itu domainnya pimpinan’. Sambil tersenyum kecut.

Akhirnya, saya tidak mampu menahan diri untuk berbuat usil. Biar tambah pusing, sebagai bahan pembanding saya tunjukkan rumusan performance dalam manajemen produksi.

Performance = (output – input)/waktu proses.

Ketika para peserta ditantang untuk memasukkan variabel ‘loyal pada Pancasila’ dalam formulasi tadi, semuanya menggelengkan kepala sambil tersenyum asam manis.

Berikutnya, beralih pada variabel disiplin waktu yang disederhanakan menjadi ketepatan jam datang dan pulang kantor. Kali ini, yang bermunculan adalah senyum bingung. Ternyata disiplin waktu berkontribusi negatif terhadap rumusan kinerja. Karena waktu proses adalah bilangan pembagi, jadinya lebih lama waktu kerja, akan lebih rendah perolehan kinerjanya.

Sebagai penutup sesi, secara berseloroh saya mengusulkan untuk melakukan reinventing terhadap penerapan disiplin kerja di kalangan birokrasi. Selama tidak berkaitan dengan keharusan bertatap muka dengan klien atau kerabat kerja, para pegawai negeri dianjurkan untuk tidak ngantor. Bekerja produktif dengan hati riang dilakukan dirumah. Hasil kerja dikirim lewat internet. Dengan demikian negara akan berhemat dari biaya transportasi, uang makan, dan biaya fasilitas kantor.

Tentu saja usulan saya ini hanya ditertawakan. Gila apa?

5 Oktober 2009
Kategori:Catatan Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: