Beranda > Artikel > Mengapa Harus Mikro?

Mengapa Harus Mikro?


M. Tata Taufik

Bila Sumacher berkata: “Small is beautiful”, Pak Nursalim —orang Mlonggo— bisa saja bilang, “Micro is rekoso”. Ini terjemahan sekenanya dari apa yang beliau ungkapkan: “Kita, pengusaha yang kecil-kecil ini, tidak lebih dari sekedar perahannya para buyer. Kita yang punya barang malah rekoso, mereka yang menjual barang kita jadi mulyo.” Ungkapan ini memang begitu pahit. Mengingat di era keterbukaan informasi, wawasan mereka juga menjadi lebih terbuka. Mereka sadar betul bahwa posisi tawar mereka baik pada rantai pemasaran output maupun pada rantai distribusi input berada pada titik terlemah. Mereka sama sekali tidak bisa mengendalikan harga jual barang jadi, begitu juga dengan harga beli bahan baku. Sehingga risiko usaha hampir sepenuhnya harus mereka pikul sendiri, karena tidak bisa memasukkannya ke dalam komponen harga. Jelas ini berat.

Ketika mereka memilih bahan baku, tidak ada seorangpun yang bisa menjamin bahwa kayu gelondongan yang mereka beli bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Sering terjadi, walau dari luar kelihatan baik ternyata kayu gelondongan tersebut bagian dalamnya bolong, busuk atau tidak masuk standar yang disyaratkan buyer. Mengingat mereka sangat tergantung pada order dengan kapasitas rendah, satu log kayu cacat bisa berarti kerugian besar bagi mereka.

Tentu saja masih ada seabreg persoalan lain yang menggumpal, dan pada gilirannya memicu keprihatinan bersama banyak pihak. Sekedar di tingkat keprihatinan, mereka memang tidak sendirian. Yang menjadi masalah, ketika masuk ke tataran program aksi hampir tidak ada pihak yang bisa secara signifikan memberikan solusi. Program intervensi pemerintah paling banter hanya bisa menjangkau lapisan atas pengusaha kecil. Program NGO dan layanan BDS provider secara riil paling jauh hanya menyentuh lapisan bawah pengusaha kecil.
Dalam kondisi under served serupa ini, idealnya usaha mikro menjadi peluang potensial bagi para BDS provider untuk berkiprah. Walau jelas tantangannya adalah rendahnya daya beli, peluangnya pun sebenarnya jelas: kuantitas.
Untuk bisa merintis dan melakukan penetrasi ke pangsa pasar ini dengan baik diperlukan strategi yang sesuai. Dengan dibekali sikap dasar penuh kesabaran dan tingginya daya kreatifitas.

Beberapa strategi yang perlu dikembangkan berkaitan dengan bagaimana paket jasa yang ditawarkan bisa dikemas ulang disesuaikan dengan karakteristik usaha mikro. Misalnya, alih-alih menawarkan paket jasa akuntansi, akan lebih sesuai bila menawarkan paket pembukuan sederhana yang bisa dikemas dengan lebih rendah. Jasa konsultatif bisa dikemas ulang menjadi jasa pelatihan kolektif.
Walaupun kemampuan bayarnya rendah secara nominal, pengusaha mikro sebenarnya tidak segan-segan mengeluarkan biaya tinggi bila yakin bahwa uang yang dikeluarkan bisa berdampak positif bagi usaha mereka. Program pembayaran melalui voucher bisa diimplementasikan, tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Mungkin yang lebih masuk akal adalah dengan mengintip peluang melalui embeded services, untuk mewujudkan terjadinya transaksi bisnis yang lebih terbuka dan fair.

03 Juni 2003, 8:38:40
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: