Beranda > Catatan > Belajar Membuang Sampah

Belajar Membuang Sampah


 

Kamar hotelSetelah menjalani sepuluh jam sesi workshop yang padat, yang dibayangkan hanyalah kamar hotel yang nyaman. Ketika kita bisa memarkir kepala kita di atas bantal, untuk mendinginkan otak yang terasa panas.

Begitu pintu kamar kubuka, fragrant yang lembut menyeruak, membelai indera penciuman. Kamar berlantai kayu terasa sejuk, lapang, nyaman, walau tanpa kesan mewah. Tempat tidur yang empuk dengan bed cover yang lembut, seperti menyambut rasa kantuk. Acungan jempol untuk pihak penyelenggara, yang telah menyediakan akomodasi istimewa di Vineyard Hotel and Spa. Sebuah hotel luxurius di Newlands, belahan Cape Town yang sejuk.

Di atas meja kulihat ada sebatang coklat tergeletak dilambari sebuah compliment note. Sebentuk appresiasi manajemen hotel, karena saya setuju untuk tidak mengganti bed cover tadi pagi. Bagi pihak hotel, tindakan saya telah membantu menghemat biaya loundry. Bagi saya, apa ruginya? Di rumah, tidak berganti sprei berminggu-minggu aja gak masalah.

Waktu mau membuang pembungkus coklat ke keranjang sampah yang tersedia di dekat kaki meja, baru kusadari adanya sebuah ganjalan. Ini sudah hari kedua aku menginap, sampahku masih utuh!? Untuk sebuah hotel dengan tarif ratusan dollar, ini sudah amat sangat keterlaluan. Memang sih belum terisi penuh, lagian ada tersedia dua buah keranjang cantik dengan anyaman tribal khas Afrika. Tapi tetap saja keteledoran semacam itu sulit dimaklumi. Bukan semata-mata masalah standar pelayanan, lebih jauh lagi ini berkaitan dengan sikap respek terhadap tamu hotel.

Tapi sebentar, ada sesuatu yang dari kemarin luput dari perhatianku. Ketika lebih dicermati lagi ternyata keranjang-keranjang sampah tersebut diberi label dengan warna berbeda. Hijau dan merah. Pada masing-masing label tercantum keterangan tentang peruntukan jenis sampahnya. Padahal dari kemarin aku membuang sampah asal cemplung saja. Ada berbagai jenis kertas, plastik dan alumunium foil bekas bungkus kemasan. Ada kulit apel, kulit jeruk, tangkai anggur, bahkan ada sisa potongan sandwichisi tuna yang urung kulahap karena rasanya yang aneh.

Memalukan! Sebagai pemegang paspor Indonesia, rasanya aku telah mempermalukan seluruh bangsa. Bagaimana jadinya kalau mereka menyimpulkan perilaku ku sebagai perilaku standar masyarakat Indonesia dalam memperlakukan sampah –walaupun memang benar begitu adanya.

Untuk mengobati rasa bersalah, demi kemuliaan nama bangsa Indonesia, kuaduk-aduk lagi isi keranjang sampah, dengan cermat kupilah isinya, lalu ditempatkan dengan hormat sesuai dengan habitatnya.

***

Keesokan harinya, saat break makan siang, bergegas aku kembali ke kamar hotel untuk menengok keranjang sampahku. Lha, benar kan? Kedua keranjang sampahku telah bersih. Lagi-lagi di atas meja ada sebatang coklat, padahal tadi pagi aku meminta penggantian bed cover. Aku mafhum, untuk apa kali ini compliment diberikan. Segera kuambil coklatnya. Nota compliment-nya, tanpa kubaca, langsung kuremas dan kumasukkan ke keranjang sampah. Tentu saja kali ini dengan cara yang baik dan benar.

Cape Town, Mei 2003
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: