Beranda > Artikel > Dari Kayu Spanyol Sampai Kayu Itali

Dari Kayu Spanyol Sampai Kayu Itali


M. Tata Taufik

Ini bukan cuplikan ayat suci ataupun sunah nabi:

“…untuk urusan furnitur, belajarlah ke negeri Cina”.

Betapa tidak, orang-orang Cina yang notabene tidak memiliki bahan baku kayu sebanyak kita, ternyata nangkring di urutan teratas pada daftar eksportir furnitur ke Amerika beberapa tahun belakangan ini. Indonesia sendiri biasanya hanya kebagian nomor empat setelah Kanada dan Taiwan. Untuk urusan bahan baku mereka menerapkan strategi look out, mereka impor dari negeri lain. Ketersediaan bahan baku mereka tentu saja bukan apa-apanya dibanding Indonesia yang luas hutan tropisnya hanya kalah dari Brasil. Tetapi mereka unggul dalam efisiensi proses produksi dan penerapan strategi pasar.

“Dalam penggunaan bahan baku, mereka itu efisien sekali. Setiap bilah kayu mereka perhitungkan betul pemanfaatannya sesuai disain produk. Bahkan sisa kayu dan tahi gergajipun mereka kumpulkan dan diproses menjadi partikel blok yang kemudian mereka gunakan untuk bagian-bagian belakang dan dalam furnitur yang di kita biasanya tetap menggunakan kayu utuh”. Cerita ini datang dari seorang pengusaha furnitur sekaligun pengurus Asmindo, yang walalupun saya tidak yakin betul bahwa beliau sempat ke Cina, tetapi ceritanya sungguh meyakinkan. Cerita selanjutnya: “… dengan demikian terkesan mereka mengalahkan kualitas. Tetapi mereka main dengan kuantitas dan harga yang kompetitif berkat proses produksi masal yang efisien”.

Ngomong-ngomong, Indonesia sendiri sebenarnya tidak kalah seru dari Cina dalam hal pengadaan bahan baku. Konon kabarnya, kalau tidak menggunakan kayu jati Spanyol yang harganya murah maka kayu jati Itali-lah yang digunakan industri furnitur kita.

Tapi jangan salah. Kayu Spanyol kita ini bisa murah harganya karena diperoleh melalui proses sparuh nyolong. Artinya walalupun pengusaha memperolehnya melalui transaksi jual beli yang syah, riwayat kayu ini berawal dari hutan rakyat tanpa dilengkapi dokumen legal. Atau, walaupun kelihatan ujung-ujungnya sudah memenuhi standar legal formal, kayu tersebut dilahirkan dari hubungan gelap di hutan-hutan negara.

Untuk memperoleh kayu jati Itali diperlukan lebih banyak waktu, duit dan kesabaran. Walau dari sudut pandang pengusaha sendiri kadang-kadang kayu semacam ini hanya dijadikan simbol kebanggaan moralitas. Sehingga dengan bangga mereka bisa berkata, “kayu ini tak liar”.

Oktober 2001

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: