Beranda > Artikel > Cerita Ini Harap Dilewatkan

Cerita Ini Harap Dilewatkan


M. Tata Taufik

Untuk memperkaya hasil-hasil penelitian, biasanya kami berdialog juga dengan kalangan subjek penelitian di luar responden. lelangkayu

Sekedar untuk mendapatkan second opinion. Beberapa fakta temuan kami bisa saja mereka bantah, mereka pertanyakan, tetapi kadang-kadang juga diperkuat dengan fakta yang mereka miliki.

Ketika kami menyodorkan fakta di sekitar pelanggaran etika bisnis pada proses pengadaan bahan baku, seorang pengusaha furnitur yang kami hubungi menanggapinya dengan serius. Untuk tidak mengatakannya ‘dengan berapi-api’.

“Polisi itu kan maling yang dikasih seragam!” Tanggapan pembuka seperti ini muncul ketika kami sodorkan beberapa isu di sekitar pungutan liar.

“Tidak peduli apakah kayu kita sudah dilengkapi dengan dokumen sesuai prosedur atau tidak, kalau perjalanan pingin lancar polisi-polisi itu tetap harus dikasih juga. Dan bukan hanya polisi, hampir semua yang terlibat dalam bisnis kayu adalah maling atau terpaksa menjadi maling. Untuk bisa eksis dalam bisnis kayu mau tidak mau kita harus bermain kayu”. lanjutnya, setengah menyimpulkan.

Pengusaha furnitur teman kita yang satu ini, sempat bertahun-tahun malang-melintang di bisnis supplier kayu. Karena bukan kebetulan bahwa kayu-kayu ini berasal dari hutan, tidak heran kalau beliau juga sempat merambah hutan-hutan di kawasan Indonesia Timur, sampai ke rimba perawan di Irian. Urusan keluar masuk hutan, sama sekali tidak membuatnya kapok. Malah banyak hikmahnya, “bisa banyak berkontemplasi”, katanya. Yang membuatnya muak adalah ketika muncul kesadaran bahwa ia harus menjadi bagian dari, ya itu tadi, konspirasi para maling. Akhirnya beliau tinggalkan bisnis kayu, maka bisnis kayu telah kehilangan seorang maling.

Ketika ditanya, apakah urusan pengadaan bahan baku bisa dibersihkan dari perilaku korup? Teman kita ini pesimis. Menurutnya, mulai dari kebijakan, pelaksana kebijakan sampai subjek kebijakannya sendiri sudah rusak. Dalam suatu sistem yang rusak, korupsi itu seperti pelumas untuk membuat mesin bisa bergerak. “Tanpa perilaku korup semacam itu, saya tidak yakin bahwa usaha furnitur bisa dijalankan”, katanya. Lalu beliau menyampaikan beberapa pengalamannya ketika masih bergabung dengan sebuah perusahaan furnitur besar. “Jatah kayu Perhutani yang bisa kita peroleh dari pelelangan sangat terbatas, bagi perusahaan besar itu hanya cukup untuk produksi beberapa minggu saja. Lha sisanya dari mana? Masa kita harus prei? Untuk bisa memenuhi order, kita terpaksa mengambil risiko dengan membeli kayu yang sering kali tidak jelas asal-usulnya. Kalau masalah surat, itu gampang. Siapa pun bisa bikin”

Usaha furnitur yang digelutinya sekarang secara spesifik mengambil peran agak ke hilir. “Sekarang ini, saya hanya nangani finishing. Dengan demikian saya tidak dipusingkan lagi dengan keruwetan urusan bahan baku”. Dengan kata lain, biar para perajin pemasok produk mentahan saja yang berurusan dengan para maling. Dengan hanya menggeluti proses finisihing tangannya relatif bisa lebih bersih.

Oktober 2001
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: