Beranda > Artikel, Catatan > Batik, Dari yang Ditulis Sampai yang Tidak Ditulis

Batik, Dari yang Ditulis Sampai yang Tidak Ditulis


canting Terlepas dari masih simpang siurnya telaah para ahli tentang asal muasal batik, paling tidak, ada satu hal yang relatif bisa dijadikan kesimpulan awal. Bahwa tidak ada masyarakat yang secara konsisten dan penuh intensitas mengembangkan batik sampai dewasa ini selain masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Walaupun tentu saja, tidak serta merta kita dapat mengabaikan kiprah masyarakat lain di luar Nusantara. Masyarakat Malayasia, misalnya, yang menetapkan batik sebagai salah satu aset budaya mereka, juga memiliki peran yang cukup besar dalam mengenalkan batik pada masyarakat internasional. Tetapi, hanya terjadi di dunia Jawa, ketika bahkan trotoar pun maunya dibatik.

batik7Telaah etimologis atas kata batik juga tidak berujung pada keseragaman makna. Kata ‘ambatik’ yang banyak dipercaya orang sebagai nenek moyangnya kata batik, kadang-kadang diartikan sebagai ‘menulis’, kadang-kadang ‘menggambar dengan coretan garis’, kadang-kadang juga diartikan sebagai ‘secarik kain dengan titik-titik kecil’. Suku kata ‘tik’ biasa diartikan sebagai bulatan kecil, tetesan, titik atau membuat bulatan-bulatan kecil. Sebagian orang lainnya merujuk kepada kata ‘tritik’ sebagai sumber pembentukan kata batik, yang bisa diartikan sebagai proses pewarnaan dengan teknik mengikat atau menjahit kain sebelum dicelupkan pada bahan pewarna.

Batik yang merakyat dan meraja

Bagi orang Jawa, batik bukanlah sekedar secarik kain yang diberi ornamen warna-warni. Bukan juga semata perkara seni. Lebih dari itu, batik sarat dengan muatan simbolis. Hal ini wajar-wajar saja terjadi mengingat perkembangan teknik dan seni batik terkait erat dengan dinamika kultur keraton. Sekalipun ada beragam motif batik yang berbeda, motif-motif tertentu secara tradisi dikaitkan dengan perayaan atau upacara keagamaan tertentu. Pada masa lampau, bahkan masih kuat kepercayaan di banyak kalangan bahwa kain batik tertentu memiliki kekuatan mistis yang bisa membawa bencana, sedangkan kain batik lainnya justru akan memberikan keberuntungan bagi pemakainya. Desain batik tertentu secara khusus diperuntukan bagi pengantin, pengiring dan keluarga pengantin. Desain lainnya khusus bagi Sultan keluarga dan para kerabatnya. Sehingga seseorang bisa diindentifikasikan status sosialnya berdasar motif batik yang dikenakannya.

Secara umum, ada dua katagori desain batik: paduan motif-motif geometris (umumnya bisa didapati pada desain-desain klasik) dan desain bercorak bentuk-bentuk bebas, yang merupakan stilisasi objek alamiah. Bentuk-bentuk yang berasal dari stilisasi awan, burung garuda, burung merak, bunga melati, tumbuhan merambat dan objek alami lainnya bisa dikenali pada ragam desain batik.

Desain batik dari wilayah tertentu biasa dikenali karena memiliki ciri yang khas tertentu pula. Desain di Jawa Tengah biasanya dipengaruhi oleh pola-pola dan warna tradisional. Batik yang berasal dari pesisir utara Jawa, sekitar Pekalongan dan Cirebon, mendapat pengaruh kuat dari budaya Cina, terlihat dengan pemilihan warna yang relatif lebih cerah dengan corak-corak bunga dan awan yang dominan. Dan jangan lupa, di pulau Jawa saja masih banyak daerah yang memiliki corak batik spesifik. Mulai dari corak batik Tasik dan Cirebon di Jawa Barat; batik Pekalongan, Lasem, Yogya dan Solo di Jawa bagian tengah; sampai batik Ponorogo, Gresik dan Madura di Jawa Timur.

Desain batik klasik, karena memiliki akar sejarah yang kuat, memiliki karakteristik yang kuat pula. Motif batik kawung, ceplok dan karang misalnya, misalnya boleh dibilang merupakan motif abadi pada desain batik.

Motif kawung, akar sejarahnya bisa dikenali paling tidak sejak abad tiga belas. Motif ini bisa dilihat pada relief-relief yang menghiasi banyak candi di pulau Jawa seperti di Prambanan atau di Kediri. Bentuk dasar motif ini adalah bentuk-bentuk lingkaran yang saling beririsan. Bentuk-bentuk oval sebagai bentuk turunannya diperkirakan orang sebagai bentuk stilisasi buah kapok atau aren (kawung juga berarti aren). Selama bertahun-tahun motif ini dikhususkan hanya untuk kalangan keraton Sultan Yogyakarta.

Motif parang, berupa barisan diagonal bentuk stilisasi ‘parang’ (bisa berarti pisau, pedang atau batu karang)yang dipadukan secara kontras dengan motif mlinjon. Ada puluhan variasi motif parang yang tercatat, yang paling terkenal adalah motif ‘parang rusak’. Motif parang, selain terlihat pada kain batik, juga bisa ditemukan pada ukiran kayu atau ornamen gamelan. Seperti juga motif kawung, motif karang memiliki muatan sakral karena eklusifitasnya bagi kalangan istana kerajaan di Jawa Tengah.

Motif ceplok adalah penamaan umum bagi motif komposit bentuk-bentuk geometris. Seperti segi empat, lingkaran, bintang atau bentuk geometris lainnya. Sekalipun terlihat semata sebagai bentuk-bentuk geometris, bila diperhatikan secara seksama motif ceplok sebenarnya merupakan bentuk-bentuk stilisasi dari bunga-bungaan, biji-bijian atau bahkan binatang. Variasi warna yang ada dipertimbangkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan kedalaman. Adanya pengaruh budaya Islam yang ‘mengharamkan’ gambar manusia atau hewan, membuat pekerja seni batik secara kreatif memotret objek alam tidak dalam bentuk-bentuk realistik. Mereka memilih bentuk-bentuk dasar yang ada, kemudian distilisasi dan dipadukan dalam bentuk pengulangan pola.

Jangan belajar batik. Lupakanlah untuk belajar batik, bila anda percaya bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang bisa diselesaikan dengan cepat. Proses kreasi untuk menghasilkan secarik kain batik memerlukan ketelitian dan kecermatan mulai dari membuat pola, menggoreskan malam sampai ke langkah pewarnaan yang berulang-ulang.

Rangkaian proses membuat kain batik dimulai dengan menggambar pola. Sangat jarang terjadi, bahwa seorang pembatik semata-mata mengandalkan ingatannya untuk secara langsung menggunakan canting untuk memberi malam tanpa terlebih dahulu membuat pola. Secara tradisional biasanya, pola digambar pada kain dengan menggunakan arang atau pensil. Selain secara langsung ke kain, menggambar pola biasa juga menggunakan bantuan kertas pola (stensil) atau menggunakan bantuan meja tracing beralas kaca yang disinari dari arah bawahnya.

(11 Juli 2001 0:52:16)
  1. September 25, 2014 pukul 7:03 am

    Waiters’ next contract will rely heavily on how he takes
    advantage (or doesn’t) of playing with the new guys.
    It almost certainly also will depend on regardless of whether he’s a starter or the very first guy off the bench.
    And lastly, no matter whether or not KI can prove he can stay healthful.
    Gotta believe in any event, he’s going to believe he deserves at
    least what Hayward got, or what Bledsoe believes he must get.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: