Beranda > Artikel, Catatan > KEGAGALAN DIFUSI

KEGAGALAN DIFUSI


M. Tata Taufik

 

disemination Difusi bisa dimaknai sebagai penyebarluasan gagasan kepada masyarakat luas. Lalu, apa apa bedanya dengan diseminasi? Difusi memiliki pemaknaan yang lebih umum, bebas nilai dan terlepas dari apakah penyebarluasan tersebut terjadi secara disengaja atau tidak. Diseminasi boleh dibilang merupakan salah satu jenis difusi, berupa penyebarluasan ‘gagasan baru’ atau ‘gagasan baik’ kepada masyarakat luas yang dilakukan secara terencana. Biasanya dikaitkan dengan logika programming intervensi sosial, transformasi sosial atau penyadaran masyarakat.

Kegagalan difusi menjadi bahan perbincangan yang menarik manakala kita kaitkan dengan kegagalan upaya pemasaran. Dengan susah payah para produsen berupaya mengembangkan produknya, baik barang maupun jasa, dan harus menerima kenyataan pahit: produknya tidak memperoleh respon positif dari konsumen. Betapapun intensifnya upaya kampanye product knowledge yang telah dilakukan. Padahal di sisi lain, ada banyak produk tertentu yang dengan derasnya menjadi trend di kalangan yang sangat luas tanpa adanya ‘upaya pemasaran’ khusus. Penggunaan produk berbahan dasar plastik misalnya, ‘tiba-tiba’ saja meluas tak tertahankan. Padahal belakangan para environmentalis, karena sadar betul biaya sosialnya tidak sebanding dengan utilitasnya, menyesalkan perkembangan tak terkendali ini. Dan dengan ‘sia-sia’ mereka mengkampanyekan penggunaan kembali bahan-bahan alami yang lebih ramah lingkungan. mesintik

Qwerty yang menyiksa

Bila anda harus mengetik dalam waktu yang cukup lama, baik dengan mesin tik portable maupun dengan bantuan PC, mungkin anda sempat merasa terganggu dengan lay out keyboard yang digunakan. Tiba-tiba saja anda merasa kasihan dengan jari kelingking anda, yang notabena memiliki tenaga paling lemah, ternyata jauh lebih sibuk dari pada jari yang lain. Bila anda kemudian mengabaikan keganjilan ini, anda merupakan salah satu dari jutaan orang yang cenderung ‘take it for granted’. Bila anda mengeluh dan menyesalkan betapa menyiksanya lay out keyboard qwerty (diambil dari urutan tombol huruf paling kanan atas), anda akan senasib dengan Dvorak.

Nama yang saya sebut belakangan ini adalah seorang profesor peneliti, yang prihatin dengan inefisiensi lay out keyboard mesin tik. Beliau kemudian melakukan penelitian yang sangat intensif. Ternyata, dengan bahasa apapun, huruf ‘a’ yang harus anda kawal dengan jari kelingking itu, memiliki frekuensi kemunculan yang jauh lebih tinggi dari pada haruf-huruf lainnya. Ternyata bahwa, dalam bahasa apapun di dunia, huruf hidup (‘aiueo’) hampir berimbang frekuensi pemunculannya dengan huruf mati sisanya. Tidak hanya berhenti di situ, Dvorak kemudian merancang lay out keyboard yang lebih ergonomis (ramah terhadap kondisi tubuh pemakai). Dengan sangat cermat, diperhitungkan perbandingan frekuensi kemunculan huruf, beban jari, daya jelajah jari, sampai beban tangan kanan dan kiri yang akan secara relatif bergantian dan berirama mengawal huruf vokal atau konsonan. Ketika hasil-hasil temuan Dvorak ini disebarluaskan, bagaimana respon masyarakat? Jawabannya ada pada lay out qwerty yang ternyata masih digunakan secara meluas dimanapun pada alat bantu tulis apapun.

Para ahli setuju, akal sehat mengiyakan hasil temuan Dvorak, tetapi pasar tetap berjalan dengan angkuhnya dengan logikanya sendiri. Kasihan Dvorak, laiknya seekor anjing yang menggonggongi kafilah, ia dicuekin.

Bila anda mengalami hal serupa ini, jangan frustasi. Anda tidak sendirian.

10 Juni 2001 3:13:00
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: