Beranda > Catatan > Kesebelasan Koruptor

Kesebelasan Koruptor


M. Tata Taufik

Ini tidak ada hubungannya dengan panasnya persaingan di Seri A liga Italia atau Piala Champion. Juga tidak ada hubungannya dengan persepakbolaan Indonesia, yang pernah heboh dengan kasus-kasus korupsi para wasit. Ini hanya sekedar untuk melihat siapa memainkan apa dalam dunia korupsi di Indonesia.
Mari kita iseng-iseng menyusun line-up kesebelasan koruptor di Indonesia. Para birokratlah yang menjadi penjaga gawang perbendaharaan kas negara. Mereka kebobolan cukup besar. Kata orang 30% dari anggaran negara dan sekitar 40% bantuan asing berhasil ‘diselamatkan’ kantong para koruptor.
Oknum militer —jangan sekali-kali menyinggung militer sebagai institusi, sangat cocok untuk menjadi barisan pertahanan yang rajin membuat gol ke gawangnya sendiri. Melalui telepon, seorang peserta dialog Format Politik Anti Korupsi di TVRI Sta. Semarang, merujuk ke jaman ORBA ketika para jendral sebagai pengaman negara juga merupakan alat untuk melindungi berbagai korupsi yang terjadi dalam birokrasi. Tanpa maksud beropini, Wimar sebagai moderator acara tersebut, juga menegaskan bahwa temanya memang selalu berkaitan dengan dua hal itu. Korupsi untuk membiayai kekerasan, dan kekerasan untuk melindungi korupsi.
Para pemain gelandang biasanya terdiri dari para petualang yang menjadi politisi, menjadi bangkir, menjadi penegak hukum, menjadi pengurus koperasi dan banyak lainnya. Daftarnya akan terlalu panjang untuk dirinci. Peran mereka sangat besar dalam mewujudkan terjadinya korupsi, dan dalam tidak mewujudkan proses pengadilan bagi koruptor.
Para pengusaha yang pintar tentu saja jadi goal getter dan bomber. Begitu pintarnya, sehingga setelah membuat gol yang cantik mereka masih sempat cuci tangan. Mereka bisa raib entah kemana, atau paling tidak, lolos dari jeratan jaring-jaring hukum. Bukan hanya Edy Tanzil sebenarnya yang bisa membuat gol cantik seharga trilyunan rupiah.
Lalu di mana kedudukan masyarakat dan LSM dalam kesebelasan ini? Mereka adalah penonton yang setia. Kadang-kadang mereka berteriak-teriak seperti yang dilakukan Teten Masduki. Kadang-kadang mereka berdiam diri karena kebingungan mengamati kepiawaian koruptor bermain. Kadang-kadang juga mereka terlibat dalam pentas permainan sebagai anak gawang. Sambil nonton, mereka belajar bagaimana bola digocek dan dimainkan. Dengan malu-malu terkadang juga mereka belajar menjadi koruptor pemula melalui dana JPS dan KUT.

17 Maret 2000
  1. Oktober 6, 2009 pukul 10:47 am

    memang hebat tulisan mengumpamakan satu kesebelasan, terutama mengurai prilaku korup pada sektor kehutanan Indonesia.

    • mtatataufik
      Oktober 17, 2009 pukul 9:46 am

      Tulisan ini dibuat, ketika langkah-langkah pemberantasan korupsi belum serius dilakukan.
      Dengan kehadiran KPK, langkah-langkah itu sudah menumbuhkan harapan.
      Sekarang….? Kesebelasan koruptor, emang hebat deh…

  2. April 14, 2013 pukul 1:43 am

    These are truly great ideas in concerning blogging. You have touched some good points here.
    Any way keep up wrinting.

  3. Maret 2, 2014 pukul 5:35 pm

    It’s remarkasble to pay a visit this website and reading the views of alll friends concerning
    this article, while I am also eager of getting familiarity.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: