Beranda > Artikel, Catatan > Wimar Witoelar, Orang Biasa yang Piawai Mengumpan Bola

Wimar Witoelar, Orang Biasa yang Piawai Mengumpan Bola


 

wimar Sekarang ini, talk show sudah menjadi menu harian berbagai stasiun TV Indonesia. Mudah-mudahan Anda sependapat dengan saya bahwa Wimar dengan ‘Selayang Pandang’-nyalah yang pada awalnya berani mengemas isu-isu panas pada sebuah acara TV. Maka wajar, ketika PKPEK punya hajat untuk mengangkat isu politik anti korupsi pada suatu acara dialog TV, Wimarlah yang pertama diharapkan bisa menjadi presenternya. Waktu itu mungkin hanya karena latah saja. Ingat talk show, ingat Wimar.

Tetapi memang kemudian terbukti, berhubungan dengan orang semacam Wimar itu ‘enak dan perlu’. Faktor ketidakpastian yang selalu menjadi hantu bagi panitia teknis pemburu nara sumber, ternyata bisa diatasi dengan relatif mudah. Kerapian manajemen Inter Matrix yang ‘menjual’ Wimar membuat pemburuan menjadi sangat simpel. Pengaturan jadwal, negosiasi tarif, prosedur dan berbagai ubo rampe lainnya, tinggal angkat telepon saja. Beres.

Sebenarnya ini rahasia. Bagi PKPEK, ada sebuah hidden agenda ketika memilih Wimar untuk menjadi presenter acara tersebut. Bukan hanya sekedar bernostalgia, karena sebagai aktifis LSM Wimar sudah menjadi kenalan lama. Tapi itu, perutnya yang gendut itu. Karena perut gendut identik dengan kemakmuran, banyak teman khawatir Wimar sudah terlalu kapitalistis, sehingga lupa dengan idealismenya untuk membela rakyat kecil. "Kalau diajak bicara korupsi, mungkin bisa menyegarkan idealisme Bang Wimar", bisik seorang teman.

Dengan kiprahnya di dunia show, Wimar boleh dibilang seorang selebritis. Karena itu ketika Wimar tiba di Graha Santika, tempatnya menginap, teman-teman panitia jadi agak gelisah. Maklum, selebirits metropolitan biasanya rewel, permintaannya aneh-aneh. Setelah ‘say hallo’, teman panitia mengundang Wimar untuk makan malam di resto hotel sekalian membicarakan hal-hal yang diperlukan untuk acara nanti malam. Ternyata Wimar menolaknya secara tidak halus, "Tidak usah. Kalau makan dulu, nanti saya malah tidak fit". Dia bilang kalau teman-teman mau makan enak di hotel silahkan saja. Dia sendiri akan cari makan malam nanti kalau acara telah selesai. Dan ternyata permintaannya yang ‘aneh-aneh’ hanya satu: dia minta istirahat sebentar. Temen saya tersenyum geli. "Ini namanya fatman syndrome", bisiknya.

Ketika acara ‘Obrolan di Simpang Lima’ selesai, Wimar minta diajak mampir ke Simpang Lima beneran. Maka, dengan lahapnya, Wimar makan ‘tahu gimbal’ di trotoar depan Masjid Agung Semarang. Ketika saya diajak mampir juga, saya menolaknya secara tidak halus. Saya selalu salah menyebut ‘tahu gimbal’ dengan ‘tahu gombal’. Bagi orang kampung semacam saya, menu di hotel berbintang jelas jauh lebih enak dari pada menu lesehan yang tak jelas asal-usulnya itu. Saya pikir selera makan Wimar yang tidak pilih-pilih semacam itulah yang membuat perutnya gendut. Harap Anda tahu, saya sendiri mengidap penyakit maag akut.

Bagi kami orang LSM, yang pekerjaannya sehari-harinya di antaranya memfasilitasi berbagai pelatihan dan lokakarya, menyimak Wimar menjadi moderator memberi keasyikan tersendiri. Kami selalu kesulitan memotong pembicaraan orang tanpa menyinggung perasaan. Kami lihat cara Wimar ‘memotong lidah orang’ manis juga. Dengan joke yang segar ia menginterupsi pembicaraan orang yang menurutnya sudah tidak fokus lagi. Orang yang bersangkutan ikut tertawa tanpa sadar bahwa pembicaraannya dipotong. Kami sering pusing bila proses partisipasi peserta suatu diskusi menjadi macet, dengan tangkas dia mengangkat problem probing yang dengan tangkas pula disambut para nara sumber. Laiknya permainan bola, dengan manis dia menyodorkan berbagai umpan matang untuk dieksekusi para nara sumber yang menjadi goal getter. Nara sumber jadi kelihatan beberapa kali lebih cerdas dari sesungguhnya.

Untuk memancing gagasan pembicara, dalam dialog ini Wimar juga sebenarnya melempar berbagai gagasan dan pendapat. Misalnya, ia sangat keberatan dengan pendapat bahwa korupsi adalah persoalan budaya. Kalau sudah menjadi budaya, tentunya kita akan sangat pesimistis terhadap berbagai upaya pemberantasan korupsi. Dibutuhkan berapa ratus tahun untuk memberantas korupsi di Indonesia? Padahal di beberapa negara yang dia tahu, di Singpura, atau Amerika misalnya, korupsi bisa diatasi dalam waktu yang relatif singkat. Kalau bersumber dari persoalan budaya, mengapa korupsi merajalela justru di Jakarta, mengapa bukannya di Semarang misalnya, yang masyarakatnya relatif lebih berbudaya. Secara khusus, dia juga prihatin dengan mentalitas masyarakat Indonesia yang secara vertikal melempem tapi secara horisontal kadang-kadang biadab.

Pada malamnya kami ngobrol-ngobrol sebentar dengan Wimar di kamar hotelnya. Ini baru namanya nostalgia. Selain bisa menguras ilmunya, ini juga kesempatan untuk menguras dompetnya. Kami pikir, dia kan orang kaya. Kaya dengan wawasan dan kaya duit. Dia menjadi komisaris di beberapa perusahaan besar seperti misalnya di Detik Com.

Dia banyak memberi masukan bagi kami, orang LSM yang maunya banyak tapi tidak punya modal. Dia bilang menegakkan idealisme tanpa memikirkan sustainabilitas, akan membuat kita serba kikuk. Serba tanggung. Tidak berani melangkah lebih jauh. Ketika kami bilang bahwa, cari duit itu susah. Dia bilang memang susah. Kalau memang cari duit itu gampang, mengapa pula orang pada repot-repot korupsi.

Bagi dia bisnis yang berhasil itu dimulai dengan membentuk jaringan —istilah yang biasa kami gunakan mungkin pertemanan. Makanya ketika dia kami minta untuk menjadi presenter di Semarang, walalu tarifnya rendah dia mau saja. Bila dihitung secara finansial, berhubungan dengan orang-orang miskin macam kami ini kan buang-buang waktu saja. Tetapi dengan bertambahnya jaringan, berangkat ke Semarang bisa dia hitung sebagai investasi jangka panjang.

Tidak seperti biasanya yang terjadi di kalangan orang LSM, kami tidak lama ngobrol. Selain karena apel yang dikamarnya sudah kami kuras habis, dia juga tidak mau repot menyembunyikan rasa kantuknya kepada kami. Kami pamit, ketika dia sudah mendahului di ambang pintu mengucapkan selamat malam pengusiran. Kami berjalan dengan menepuk kantong, lumayan juga kontribusinya bisa untuk biaya operasional kantor.

Salam biasa dari kami orang biasa untuk Wimar yang orang biasa juga.

01 Februari 1999 8:55:50
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: