Beranda > Artikel, Catatan > FAIR PLAY DALAM BERMAIN KAYU

FAIR PLAY DALAM BERMAIN KAYU


M. Tata Taufik

“Bila Anda mau terjun di bisnis kayu, Anda harus bisa bermain kayu”. Dalam dinamika bisnis furnitur, nasehat semacam ini sepertinya sudah terinternalisasi begitu mendalam di sanubari para pelakunya. Anda bisa tidak mempercayai moralitas semacam ini, tetapi Anda juga mungkin tidak bisa menghindarinya bila Anda terlibat di dalamnya.

Mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi sampai dengan pemasaran, persoalan etika bisnis selalu menghantui. Yang kesemuanya secara moralitas seolah diabsahkan demi kelancaran usaha. Karena alasan moral dan hukum, menjadi penadah barang curian tentu tidak akan mereka lakukan. Tetapi ketika menerima kayu hasil jarahan, misalnya, persoalannya dipandang dengan cara yang sangat berbeda. Sepertinya ‘lha habis gimana lagi..?’ Menjadi klausul justifikasi, yang bisa mencuci semua noda moral.

Tanpa bermaksud memerankan diri sebagai garda pengawal moral, atau menjadi hakim yang memutuskan vonis benar-salah, wacana ini akan lebih diorientasikan kepada persoalan etika bisnis dari sudut pandang bisnis itu sendiri. Mempersoalkan etika bisnis dari sudut moral bisa jadi hanya akan menggiring diskusi ke arah relativitas atau bahkan absurditas belaka.

Dari sudut pandang pengembangan usaha, masalah etika bisnis lebih dititikberatkan kepada upaya untuk mewujudkan lingkungan dan kultur bisnis yang sehat.
Kompetisi yang sehat tentu takan terjadi, ketika persaingan usaha lebih ditentukan oleh kekuatan kapital, banting-bantingan harga dan uang pelicin. Persaingan dengan mengedepankan kualitas produk menjadi tidak mungkin ketika QC bisa disogok.

Tidak berjalannya etika bisnis juga telah menyebabkan high cost economy. Biaya lain-lain tidak hanya timbul dari sogokan atau pungutan liar, tetapi juga biaya yang terpaksa dikeluarkan karena kecurangan relasi usaha, atau bahkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan tersebut.

Persoalan akan menjadi semakin rumit ketika hancurnya etika bisnis telah menyebabkan hancurnya juga collective trust. Dalam bisnis furnitur di Jepara misalnya, besar kecilnya DP ditentukan oleh tingkat kepercayaan buyer terhadap suplayer. Ketika tingkat kepercayaan kolektif menurun, yang tejadi kemudian adalah munculnya komentar seperti ini: ‘Ngasih DP sama perajin di Jepara sama saja dengan ngasih uang jajan. Barang enggak jadi uang hilang’. Tidak heran bila kemudian para buyer lebih cenderung bermitra dengan suplayer dari daerah lain, yang tingkat expertise produksinya sebenarnya masih di bawah Jepara. Sekarang ini banyak perajin Jepara yang terpaksa melempar barangnya melalui Yogyakarta.

Untuk menegakkan etika bisnis tentu saja menjadi pekerjaan yang sangat sulit dan memakan waktu. Pendekatan kultural sepertinya menjadi satu-satunya alternatif yang mungkin.

03 Juni 2003, 8:42:26
About these ads
  1. Januari 22, 2014 pukul 9:24 pm

    Wonderful website. A lot of helpful info here. I am sending
    it to a few pals ans also sharing in delicious. And of course, thanks in your sweat!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: